Beranda » PENDIDIKAN KARAKTER

PENDIDIKAN KARAKTER

Pengertian Pendidikan Karakter

(Diambil dari Materi Diklat Pendidikan Karakter Pusbangprodik, 2011)

Istilah pendidikan karakter sering diidentikkan dengan sifat-sifat yang menonjol atau kepribadian pada diri seseorang. Kamus Oxford mendefinisikan pendidikan karakter sebagai: 1) kualitas mental dan moral yang khas pada diri seseorang; 2) sifat asli seseorang. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) pendidikan karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

Menurut Kartadinata (Pusbangprodik, 2011) hakikat pendidikan karakter adalah proses tingkah laku pendidikan yang mendidik, moralis dan santun, yang diwujudkan oleh mereka secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pendidikan seperti pendidik, peserta didik, pengelola pendidikan, administrator pendidikan, perencana pendidikan, peneliti pendidikan, lingkungan pendidikan (orang tua, masyarakat, pemerintah, organisasi dsb).

Suyanto(2011) mengemukakan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.  Adapun pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan penalaran (kognitif), afektif (feeling), dan tindakan (action).

Adapun pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai kepada pendidik, peserta didik, dan tenaga kependidikan baik formal, non formal maupun informal yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia seutuhnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dirangkum bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan nilai, budi pekerti, moral, watak, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Nilai-nilai karakter tersebut diintisari menjadi nilai-nilai tersebut kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, dan kepedulian.  Keempat nilai tersebut selanjutnya akan dijabarkan secara lebih mendalam. Keempat nilai karakter tersebut akan mewarnai nilai- nilai karakter lainnya.  Kejujuran dapat didefinisikan sebagai tindakan mengungkapkan perasaan, pikiran, dan perbuatan yang sebenarnya baik bersifat positif,  maupun negatif; menguntungkan atau merugikan.  Sikap jujur tersebut salah satunya dilandasi oleh tanggung jawab dan keyakinan bahwa alam semesta dan kehidupan mengikuti sosial mengikuti hukum sebab akibat yang rasional.

“Siapa menabur angin dia akan menuai badai”; becik ketitik ala ketara; “kebenaran akan mengalahkan keburukan” merupakan contoh pepatah yang menyatakan bahwa hukum alam dan sosial bersifat rasional, karena ketidak jujuran akan melahirkan kronologis yang tidak logis atau rasional. Berdasarkan uraian tersebut maka indikator Kejujuran dapat dijabarkan sebagai berikut.

  1. Sesuai dengan Kenyataan
  2. Rasional
  3. Objektif
  4. Apa adanya
  5. Terbuka (Astuti, 2011).

Kenyataan atau realitas adalah unsur utama kejujuran.  Karena jujur berarti mengungkapkan hal yang sebenarnya atau sesuai dengan kenyataan.  Hukum alam dan sosial mengikuti hukum sebab akibat yang bersifat rasional.  Dengan demikian salah satu ciri kejujuran adalah rasional.  Setiap manusia mempunyai sisi positif dan negatif sehingga kejujuran harus  ditinjau dari dua aspek, baik aspek yang bersifat positif yang menguntungkan, maupun aspek negatif yang merugikan.  Dengan demikian,  untuk mengungkapkan obyektivitas perlu data apa adanya, tidak dilebihkan ataupun dikurangi.  Menutupi kelemahan menjadikan penilaian tidak obyektif, sehingga untuk menilai kejujuran perlu adanya indikator keterbukaan.

Kecerdasan dapat diartikan kemampuan seseorang untuk memahami suatu fenomena secara benar, tepat dan cepat.  Seseorang dikatakan cerdas apabila dapat menangkap berbagai gejala dengan persepsi tepat dalam waktu singkat.  Sehingga dapat dikatakan bahwa indicator seseorang yang cerdas antara lain:

  1. Mudah menerima stimulus.
  2. Menangkap stimulus dengan tepat,dapat memilah bagian utama, bagian pendukung, dan bagian yang tidak penting dari suatu gejala.
  3. Cepat merespon suatu gejala dengan benar.(Astuti, 2011)

Tangguh menyangkut ketahanan fisik. Indikator ketangguhan antara lain mempunyai daya tahan baik fisik maupun mental.  Ketahanan fisik adalah kemampuan melakukan gerak fisik dalam jangka waktu yang relatif lama.  Ketahanan mental adalah kemampuan menahan tekanan-tekanan yang bersifat psikis dari lingkungan sosialnya dalam upayanya untuk mencapai tujuan. Dengan demikian indikator ketangguhan dapat dijabarkan sebagai berikut.

  1. Ketahanan Fisik
  2. Ketahanan Mental
  3. Konsistensi (Astuti, 2011)

Kepedulian adalah perwujudan sikap seseorang yang menunjukkan perhatiannya yang begitu  besar pada seseorang, obyek, atau suatu fenomena.  Kepedulian merupakan kelanjutan dari sikap simpati, dan empati.  Simpati merujuk pada perhatian positif seseorang  pada suatu obyek, fenomena, dan seseorang, sedangkan empati adalah kemampuan menghayati suatu fenomena atau  kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain.  Kepedulian merupakan pengamalan dari sikap simpati dan empati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 685 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: